BUKITTINGGI - Badai pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid -19) menjadi problem diberbagai belahan dunia yang terjadi semenjak akhir tahun lalu.
Mulai pertengahan bulan maret 2020 RSUD Dr Achmad Mochtar Bukittinggi yang dikenal dengan RSAM sudah menerima pasien Suspect, pasien yg berinisial HM yang tinggal di palolok beliau ada gejala Covid, apakah itu panas tinggi lalu batuk, dari hasil rogentnya yang menunjukkan ada gejala Covid.
Tapi saat itu hasil swabnya belum keluar, saat itu untuk pemeriksaan swab pasien itu baru ada di laboratorium Kementrian Kesehatan di Jakarta. Belum ada lagi laboratorium Fakultas Unand dan Vertiner yang di Baso.
Ternyata memang hasil swab HM keluar dengan hasilnya positif, kemudian dirawatlah dia di ruang isolasi Covid RSAM lalu disusul adanya pasien lain seperti istri beliau disamping pasien pasien lainnya, seperti pasien Sumatera Barat yang Pertama kali sembuh, Ira tridevi yang berasal dari Batusangkar, itulah awal perjalanan ruang isolasi RSUD Dr Achmad Mochtar Bukittinggi menerima pasien Suspect atau pasien positif di RSAM.
Lalu dengan berjalannya waktu, banyak dinamika mengurus pasien pasien dari pada Covid ini, diawalnya baru Suspect atau PDP kemudian dia meninggal hasil swabnya belum keluar, tentu banyak juga problemnya mengurus keluarga pasien ini.
Awalnya mereka menyetujui untuk protokol Covid, kalau sudah meninggal pada kenyataannya banyak yang menentang.
Pada Saat diwawancarai, Mursalman Ch, SH MM yang akrab disapa pak cha tersebut mengatakan, banyak kasus kasus itu, terpaksa kita sebagai humas memberikan pengertian dan pemahaman tentang dampak resiko dari pada wabah ini.
"Kalau sekiranya tidak kita laksanakan secara protokol Covid, tentu akan ada resiko bagi keluarga yang meninggal, lalu petugas dan juga masyarakat yang menolong untuk mengantisipasi resiko," terangnya.
Kemudian dasar kita melaksanakan penyelenggara jenazah secara protokol Covid mengacu kepada, UU No. 4 tahun 1984, UU No. 6 tahun 2018, SE, Dirjen P2P Kemenkes No. 483 kemudian instruksi Gubernur Sumatra Barat terkait penyelengaraan pasien ( Jenazah) yang kita selenggarakan secara protokol Covid -19.
"Senangnya Humas ini tentu bisa dipahami juga, kita dikenal oleh sekelompok masyarakat atau masyarakat banyak, seperti media salah satunya, tentu mencari informasi ke Rs. rujukan Covid ini melalui Direktur atau humasnya," lugasnya.
Ketika pandemi ini tentu masyarakat banyak terpusat perhatiannya ke rumah sakit rujukan Covid, kemudian bagaimana cara masyarakat mendapatkan informasi tentu lewat tangan tangan media, teman teman media datang kerumah sakit RSAM menghubungi Direktur atau Humasnya.
Mursalman Ch, bersyukur sebagai humas terjadinya pandemi ini ada juga hal positifnya secara pribadi yang dirasakan, bisa kita dikenal oleh masyarakat walaupun dampak dari petugas kita, kita tidak ingin terkenal tapi situasi dan kondisi yang membikin kita di beritakan oleh orang lain, katakanlah teman teman media.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : |
| Editor | : |
Komentar & Reaksi