SUARA INDONESIA BUKIT TINGGI

Begini Kisah Nakes RSAM Bukittinggi Dalam Merawat Pasien Covid -19

- 30 December 2020 | 15:12 - Dibaca 1.42k kali
Peristiwa Daerah Begini Kisah Nakes RSAM Bukittinggi Dalam Merawat Pasien Covid -19
Deddy Herman, SpP (K) FCCP, FAPSR, FISR, MCH Nakes RSAM Bukittinggi

BUKITTINGGI - Semenjak awal Corona Virus Disease 2019 (Covid -19) terjadi di Indonesia, awal kasus pertama itu tanggal 2 Maret dan di Bukittinggi 17 Maret 2020, dr Deddy Herman, SpP (K) FCCP, FAPSR, FISR, MCH Sudah mulai merawat pasiennya.

Pada Saat diwawancarai, dr. Deddy Herman menyampaikan, pasien yang dia rawat awalnya waktu itu ada lima orang, dan bertambah 50 orang lebih.

"Perhari ini, pasien yang dirawat berjumlah 26 orang juga perhari ini ada enam orang sudah negatif dan sudah dipulangkan," terang dr Deddy Herman, dan juga Wakil Ketua Satgas Covid RSAM ini. Selasa (29/12/2020). 

Suka duka menjadi dokter yang menangani Covid -19 tentu bermacam - macam, baik itu hubungannya dengan pekerjaan, hubungan dengan permasalahan, baik itu dengan pasien, dengan rumah sakit ataupun dengan teman sejawat maupun dengan perawat yang bekerja bersama.

"Pertama datang Covid -19, ada ketakutan luar biasa, bahwa penyakit ini cepat sekali menyebabkan kematian pada petugas kesehatan dan orang yang terkena," tuturnya. 

Hingga diawal terjadinya peristiwa Covid tersebut, seluruh petugas, sekali bekerja di Covid itu, dirinya tidak bisa lagi bertemu dengan keluarga. 

"Sehingga kalau ingin bertemu dengan keluarga, dirinya hanya se Hello dari jauh saja," jelas bapak dua orang anak ini. 

Kadang-kadang tidak bisa juga dirinya sebagai seorang bapak itu mengajar, jadi artinya, setelah shalat itu, biasanya berjamaah, dirinya selalu membimbing anak -anaknya dalam shalat, bacaan shalat dan lain-lain. 

"Tapi ternyata setelah Covid ini, dirinya tidak bisa lagi bersama dengan anak dan istri selama tiga bulan dirinya tinggal di tempat orang tua," imbuh Satgas Covid Kota Bukittinggi ini. 

Pandemi Virus corona ini sangat menyiksa dirinya, ingin bertemu dengan anak hanya lewat vidio call (VC) ataupun hanya datang di depan rumah.

"Didepan rumah berbicara kepada anak dan anakpun tidak bisa mendekat pada dirinya, khawatir anak - tertular virusnya," papar dokter muda ini.

Ini yang menyebabkan anak menjadi suka menangis dirumah karena tidak bertemu dengan orang tuanya. 

"Suka bicara, oh papa hati - hati ya, pakai masker ya pa, nanti papa bisa meninggal lho kalau kena Covid, apa yang mereka lihat di televisi atau radio itu akan berefek kepada mental mereka," pungkas Dosen Fakultas Kedokteran Unand ini. 

Karena dirinya berpisah dengan keluarga selama tiga bulan, tentu dalam hal pendidikan untuk shalatnya,mengajinya itu agak kurang optimal. 

Biasanya setiap selesai shalat dirinya selalu mengajarkan anak -anaknya mengaji dan baca iqra', namun selama tiga bulan itu hampir seluruhnya dikerjakan oleh istri, sehingga itu akan berbeda kesannya bagi si anak. tutup dr Dedi Herman, Spesialis Paru ini. 

Reporter :Edwarman 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta :
Editor :

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya